Fakta Menarik Seputar Jalur Sejarah Rempah di Jawa Timur

13 hours ago 6

Tak banyak yang tahu bahwa sejarah rempah di Jawa Timur bermula dari Kota Surabaya. Kota Pahlawan ini menjadi titik lokasi yang terkenal sebagai pusat perdagangan. Dulunya, Surabaya memiliki jalur rempah dengan banyaknya kapal-kapal samudra yang singgah dari berbagai daerah di Nusantara. 

Baca Juga: Sejarah Rempah Kayu Manis, Komoditas Global yang Sukses Membuka Jalur Perdagangan Dunia

Deretan Fakta Menarik Seputar Jalur Sejarah Rempah di Jawa Timur 

Pada dasarnya, rempah-rempah merupakan komoditas lama yang banyak diburu oleh bangsa asing di Nusantara. Umumnya, rempah-rempah ini berasal dari wilayah Indonesia Timur, termasuk Maluku dan sekitarnya. Namun, ternyata ada pula produk rempah dari pedalaman Jawa. 

Dalam sejarahnya, Kerajaan Majapahit memiliki salah satu kekuatan armada maritim yang dikenal sebagai gugus 5. Armada ini bertugas di Laut Jawa untuk menjaga jalur pelayaran yang menghubungkan pedalaman Jawa dari sungai dan wilayah Indonesia bagian timur. Nah dari dua jalur tersebut, Surabaya menjadi titik pertemuan antara keduanya. 

Pecinan sebagai Kawasan Dagang

Pada abad ke-14 hingga ke-15, pelabuhan Surabaya belum berlokasi di Tanjung Perak seperti sekarang. Kala itu, pusat perdagangan Surabaya berada di kawasan sungai yang berfungsi sebagai pelabuhan dagang. Kawasan ini populer disebut sebagai Pecinan. 

Pada masa itu, wilayah Pecinan populer sebagai Su-Sui atau Si Shui. Letaknya berada di sebelah timur Sungai Kalimas. Ketika bangsa Eropa mulai datang dan menetap di Surabaya, mereka memilih tinggal di sisi barat Sungai Kalimas. Lebih tepatnya berseberangan dengan kawasan Pecinan yang dihuni oleh etnis Tionghoa. 

Relief Cengkih di Ampel Denta

Sejarah rempah di Jawa Timur juga dimaknai dengan pembangunan relief cengkih. Tak jauh dari Sungai Pegirian, terdapat kawasan yang populer sebagai Ampel Denta. Dulunya, kawasan ini dihuni oleh para pengikut Raden Rahmat. Kemudian, populer sebagai Sunan Ampel. 

Baca Juga: Sejarah Jalur Rempah Nusantara di Pulau Jawa

Nah di area masjid Ampel, terdapat gapura yang menampilkan relief berbentuk bunga dan daun cengkih. Cengkih sendiri teknal sebagai salah satu komoditas rempah yang sangat penting pada masa itu. 

Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Profesor Suparto Wijoyo menyebutkan bahwa relief cengkih pada gapura kompleks Masjid dan makam Sunan Ampel memiliki makna penting. Di mana, bangunan tersebut merupakan bentuk legitimasi rempah-rempah sebagai produk unggulan di Nusantara. Hal ini semakin menegaskan peran Surabaya sebagai salah satu bagian dari jalur perdagangan rempah pada masanya. 

Evolusi Pelabuhan Jembatan Merah

Freddy H Istanto, Ketua Surabaya Heritage Society menyebutkan bahwa dahulu kala, kapal-kapal samudera memuat dan membongkar barang-barangnya di selat Madura. Kemudian, tongkang dan perahu membawa barang tersebut ke Jembatan Merah yang saat itu menjadi pelabuhan pertama di jantung Kota Surabaya. Transportasi ini menjadi bukti jalur sejarah rempah di Jawa Timur yang berlangsung aktif dengan melewati Sungai Kalimas. 

Seiring berkembangnya lalu lintas perdagangan maupun arus barang, fasilitas dermaga di Jembatan Merah sudah tidak mencukupi lagi. Kemudian, pemerintah Belanda menyusun rencana baru untuk membangun Pelabuhan Tanjung Perak. Tujuannya adalah memberikan pelayanan terbaik kepada kapal-kapal Samudera untuk memuat dan membongkar barang secara langsung, tanpa tongkang ataupun perahu. 

Sayangnya, rencana pihak Belanda tersebut tertolak secara tegas. Alasannya lantaran biaya pembangunan yang tinggi pada saat itu. Tercatat selama abad ke-19 tidak ada pembangunan baru untuk fasilitas pelabuhan. Padahal, lalu lintas angkutan barang ke wilayah Jembatan Merah terus mengalami peningkatkan. 

Setelah tahun 1910, barulah pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak akhirnya berlangsung. Akhir abad ke-19 menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan industri maupun teknologi yang bertumpu pada hasil ekspor perkebunan dan pertanian. Setelah memasuki abad ke-20, Surabaya akhirnya menjadi pusat ekonomi yang menduduki peringkat kedua setelah Batavia. 

Kampung Rempah di Krembangan

Tak jauh dari kota lama Surabaya, terdapat perkampungan unik yang populer sebagai Kampung Rempah. Kawasan ini berada di RW 11 Kelurahan Krembangan Selatan. Letaknya sendiri berada di Barat Daya dari pusat Kota Surabaya lama. Uniknya, kawasan tersebut dinamai dengan beberapa jenis rempah-rempah populer Nusantara. Nama jalan di kawasan ini mencakup Jinten, Mrico, Jagaraga, Kunir, Adas dan Kapulaga. 

Baca Juga: Sejarah Perburuan Mutiara dari Timur dan Perebutan Hegemoni

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, Surabaya memang berkaitan erat dengan sejarah rempah di Jawa Timur. Terlebih sebagai jalur utama dan perdagangan sejarah rempah di Jawa Timur. Perannya sebagai kota pelabuhan strategis menjadikan Surabaya sebagai titik penting dalam distribusi berbagai komoditas rempah pada masa itu. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |