harapanrakyat.com,- Musim kemarau yang mulai melanda wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat tidak menyurutkan semangat para petani muda yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Harapan Muda, Dusun Buniasih, Desa Kutawaringin, Kecamatan Purwadadi.
Di tangan gigih para petani muda ini, lahan seluas 3 hektar di area pesawahan tadah hujan disulap menjadi lahan yang tetap produktif. Mereka terus menunjukkan komitmen tinggi untuk mengolah sektor pertanian demi meningkatkan penghasilan sekaligus menjaga ketahanan pangan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi mayoritas pesawahan di Desa Kutawaringin saat ini sebenarnya dalam keadaan kering kerontang. Kondisi ini akibat dampak musim kemarau. Puluhan hektar lahan sawah di sekitarnya bahkan terpaksa dialihkan untuk ditanami palawija jenis kacang hijau.
Baca Juga: Lansia Ciamis Digigit Ular Saat Beri Pakan Ayam, Tangan Bengkak dan Membiru
Namun, pemandangan berbeda terlihat di area kerja Poktan Harapan Muda. Lahan yang sudah mengering tersebut justru tetap dioptimalkan untuk budidaya padi dengan menerapkan sistem pertanian modern.
Gerakan tanam perdana ini dihadiri langsung oleh petugas dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang Jawa Barat. Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta para penyuluh pertanian dari setiap kecamatan yang berada di wilayah eks Kawedanan Banjarsari.
Para Petani Muda di Purwadadi Ciamis Terapkan Sistem Pertanian Modern PM-AAS
Ketua Kelompok Tani Harapan Muda Desa Kutawaringin, Madriana, mengungkapkan bahwa aktivitas pertanian yang sedang berjalan merupakan penanaman perdana dengan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Lahan seluas 3 hektar kini mulai digarap intensif.
“Cara tanam ini merupakan arahan langsung dari penyuluh pertanian untuk menyiasati lahan sawah kering agar tetap produktif. Meskipun harus merogoh modal yang lumayan besar di awal, namun berdasarkan hitung-hitungan, sistem tanam seperti ini masih sangat berpotensi menggali keuntungan besar di dunia pertanian,” ujar Madriana kepada harapanrakyat.com, Kamis (09/07/2026).
Ia menambahkan, Poktan Harapan Muda berkomitmen menjadi motor penggerak inovasi pertanian di desanya. Walaupun saat ini mereka masih dihadapkan pada keterbatasan Alat Mesin Pertanian (Alsintan).
“Jujur saja, kami masih terkendala alsintan. Mesin penunjang yang kami miliki saat ini baru sebatas pompa air. Untuk traktor yang digunakan sekarang pun, kami harus meminjam dari poktan lain. Kami sangat berharap ke depannya pihak terkait bersedia memberikan bantuan alsintan. Agar sektor pertanian di kelompok kami bisa kian maju dan berkembang,” harapnya.
Dalam menjalankan gerakan tanam modern di tengah musim kering ini, Poktan Harapan Muda mengandalkan aliran air dari Sungai Ciseel yang dialirkan ke area pesawahan menggunakan sistem pompanisasi.
Baca Juga: Guru SD PPPK di Panumbangan Diduga jadi Korban Pelecehan, PGRI Ciamis; Siap Kawal Hingga Tuntas
Efisiensi Kerja dan Potensi Keuntungan Berlipat
Di tempat yang sama, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Purwadadi, Jaja Sukmana, menegaskan bahwa penerapan sistem modern PM-AAS menjadi salah satu strategi jitu dalam mendongkrak produktivitas pertanian, khususnya pada lahan tadah hujan.
“Awalnya kami melihat potensi sekaligus tantangan pesawahan di wilayah desa binaan kami di Kutawaringin. Poktan Harapan Muda ini terlihat sangat antusias. Setelah kami berikan pembinaan dan arahan mengenai PM-AAS, ternyata langsung disambut baik. Alhamdulillah, hari ini gerakan tanam di lahan seluas 3 hektar siap dilaksanakan,” kata Jaja.
Jaja memaparkan bahwa sistem PM-AAS memang sangat ideal diterapkan pada kondisi lahan sawah kering yang tidak tergenang air. Hal itu karena proses penanamannya menggunakan metode sebar benih atau biji padi secara langsung.
“Secara kalkulasi, kebutuhan benih memang lebih banyak. Untuk satu hektar dengan sistem ini membutuhkan sekitar 75 kg benih padi, berbeda dengan sistem semai konvensional yang hanya butuh 25 kg. Namun, dari segi efisiensi kerja, sistem ini memangkas banyak biaya karena petani tidak perlu lagi membuat lahan persemaian yang memakan modal tambahan,” jelasnya.
Dari aspek keuntungan finansial, Jaja optimis hasil panen dengan metode modern ini bisa meningkat signifikan jika dibandingkan dengan metode lama.
“Perbandingannya bisa dua sampai tiga kali lipat lebih menguntungkan. Makanya keputusan tanam hari ini sudah melalui perhitungan yang matang bersama kelompok tani. Walaupun harus keluar biaya operasional untuk pompanisasi air Sungai Ciseel, insya Allah profit saat panen nanti tetap tinggi,” imbuh Jaja seraya berharap perwakilan BBPP Lembang yang hadir dapat ikut mendorong bantuan sarana prasarana bagi para petani setempat.
Apresiasi dari Pemerintah Desa Kutawaringin
Keberanian dan kreativitas para pemuda ini mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Desa Kutawaringin, Kartim. Ia menyebut Poktan Harapan Muda sebagai kelompok tani yang usianya paling muda namun memiliki progresivitas yang luar biasa.
“Bisa dibilang Poktan Harapan Muda ini berdirinya paling bontot (terakhir), tapi langkahnya paling terdepan dalam pengembangan pertanian modern. Pengurusnya diisi oleh jajaran petani milenial yang handal dan aktif. Terbukti mampu menunjukkan peran nyata pemuda dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” puji Kartim.
Kartim menambahkan, selain sukses merintis penanaman padi sistem modern di musim kemarau, kelompok tani ini juga unggul dalam sektor hortikultura dan palawija.
“Tanaman palawija dan hortikultura mereka sangat bagus, mulai dari cabai, melon, dan jenis lainnya menjadi salah satu yang paling unggul di desa kami,” katanya.
Sebagai informasi, Desa Kutawaringin memiliki total 11 lembaga pertanian. Terdiri dari 1 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), 8 Kelompok Tani (Poktan), dan 2 Kelompok Wanita Tani (KWT). Total area pesawahan di desa tersebut mencapai 160 hektar lebih.
“Namun, kami masih memiliki kendala pada lahan rawa sekitar 50 hektar yang sulit ditanami padi secara normal, seperti di Rawa Cibeureum. Di sana air selalu menggenang, dalam setahun bisa sampai lima kali tanam, tapi panennya kadang cuma satu kali, bahkan seringkali gagal total,” pungkas Kartim.
Baca Juga: Api Hanguskan 2 Hektare Lahan di Dekat SMPN 2 Banjarsari Ciamis, Diduga Akibat Pembakaran Ilalang
Berdasarkan data Pemerintah Desa Kutawaringin, luas wilayah total desa mencapai 986 hektar. Komposisi tata guna lahan didominasi oleh perkebunan karet milik PTPN Batulawang sebesar 60 persen, sedangkan 40 persen sisanya merupakan lahan darat yang terbagi untuk area perkebunan warga serta pesawahan. (Suherman/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

10 hours ago
10

















































