Pengembangan Vaksin Dengue Berbasis mRNA di UI Kerjasama dengan Tsinghua University

4 hours ago 6

Indonesia meluncurkan proyek pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA di UI yang berkerjasama dengan Tsinghua University pada Juli 2026. Pengembangan vaksin demam berdarah dengue berbasis teknologi mRNA ini menjadi hasil kolaborasi antara Universitas Indonesia, Tsinghua University, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia. Pemerintah memberikan dukungan penuh melalui Kementerian Kesehatan, BPOM, serta LPDP. 

Baca Juga: HUT KBB ke-19 Hadirkan Layanan Vaksinasi Rabies Gratis dan Sterilisasi Kucing Bersubsidi

Peluncuran prototipe tersebut menandai perkembangan bioteknologi nasional. Platform mRNA memungkinkan pengembangan vaksin yang lebih cepat dan lebih aman dibanding metode konvensional. Teknologi ini menggunakan materi genetik virus dengue strain asli Indonesia untuk memicu respons imun tubuh.

Pengembangan Vaksin Dengue Berbasis mRNA di UI – Tsinghua University

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa vaksin ini akan menjadi antigen ke-16 dalam Program Imunisasi Nasional. Target pemerintah adalah menguasai platform teknologi mRNA sebelum akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo. Saat ini Indonesia masih mengimpor sebagian besar vaksin dengan biaya tahunan mencapai 400 hingga 500 juta dolar Amerika. 

Ketua Peneliti dari UI, Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D., menjelaskan bahwa prototipe masih berada pada tahap praklinis. Hasil uji coba awal menunjukkan titer antibodi terhadap empat serotipe virus dengue lebih unggul dari vaksin komersial yang tersedia saat ini. Tim menargetkan uji klinis awal pada manusia dimulai dalam enam bulan ke depan. 

Rektor UI Heri Hermansyah menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan diplomasi akademik tingkat tinggi. Kerja sama ini tidak hanya mencakup pertukaran pelajar, tetapi juga penciptaan teknologi kesehatan yang menyelamatkan nyawa. Efek berganda dari proyek ini meliputi hilirisasi industri dan penguatan sistem kesehatan nasional. 

Wakil Presiden Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang menyebut kolaborasi ini sebagai buah nyata kerja sama strategis China-Indonesia. Platform vaksin tradisional memiliki keterbatasan tertentu, sementara teknologi mRNA menawarkan peluang baru yang dapat diadaptasi oleh sistem lokal. Basis Kerja Sama Sains dan Teknologi Internasional Beijing memberikan fondasi kuat bagi riset bersama ini. 

Baca Juga: Lindungi Garda Terdepan, Ratusan Nakes RSUD KHZ Musthafa Tasikmalaya Divaksin Campak Rubella

LPDP mengalokasikan dana sebesar tujuh miliar rupiah untuk riset ini. PT Etana Biotechnologies Indonesia menyumbang sembilan miliar rupiah, sehingga total pendanaan mencapai enam belas miliar rupiah. Dana tersebut mencakup pengembangan prototipe hingga pelaksanaan uji klinis awal.

Vaksin Dengue Tradisional vs Vaksin mRNA

Vaksin dengue yang tersedia saat ini menggunakan metode virus yang dilemahkan. Dengvaxia dan Qdenga merupakan contoh vaksin yang sudah mendapat izin edar. Namun, vaksin tersebut memiliki keterbatasan dalam cakupan perlindungan dan risiko efek samping pada kelompok tertentu.

Vaksin berbasis mRNA yang UI kembangkan menggunakan data genetik virus dengue strain lokal. Pendekatan ini harapannya memberikan perlindungan yang lebih efektif karena sesuai dengan karakteristik virus yang beredar di masyarakat Indonesia. Vaksin ini tidak memasukkan virus hidup ke dalam tubuh, melainkan hanya instruksi genetik untuk memproduksi protein virus. Cara kerja ini membuat vaksin mRNA lebih aman karena tidak ada risiko infeksi akibat vaksinasi itu sendiri. 

Baca Juga: Waspada Penyakit Campak, Dinkes Jawa Barat Imbau Masyarakat Tak Tolak Vaksinasi

Pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA di UI bersama Tsinghua University membawa harapan baru bagi Indonesia. Pengembangan vaksin dengue dengan basis mRNA ini berpotensi mengurangi ketergantungan impor yang saat ini menghabiskan 400 hingga 500 juta dolar Amerika per tahun. Indonesia dapat bertransformasi dari konsumen teknologi kesehatan menjadi produsen inovasi medis global. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi UI sebagai universitas riset terdepan di Asia Tenggara. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |