Menggali Sejarah Candi Astano di Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi

1 day ago 17

harapanrakyat.com,- Menggali sejarah Candi Astano memberikan wawasan baru mengenai peradaban kuno Nusantara secara mendalam. Situs purbakala ini terletak di Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi yang kaya akan nilai arkeologi. Selanjutnya, bangunan megah tersebut berdiri sejauh tiga ratus lima puluh meter dari aliran sungai.

Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Candi Orang Kayo Hitam di Jambi

Nama tempat suci ini memiliki makna mendalam sebagai tempat pemakaman raja zaman dahulu. Oleh karena itu, struktur bangunan kuno ini mengindikasikan fungsinya sebagai lokasi kremasi tokoh penting. Bahkan, kawasan situs budaya peninggalan tersebut dikelilingi oleh parit buatan yang terhubung dengan jaringan air.

Penemuan Menarik dalam Sejarah Candi Astano

Seorang peneliti bernama Schnitger pertama kali mengidentifikasi situs bersejarah ini pada tahun 1936. Namun, upaya penggalian awalnya sempat terhenti karena belum mendapat izin dari masyarakat setempat. Seiring berjalannya waktu, proses pembersihan lingkungan candi akhirnya berhasil mengungkap banyak artefak berharga.

Baca juga: Mengupas Keunikan Sejarah Candi Lesung Batu di Musi Rawas Utara

Peneliti menemukan dua buah padmasana batu yang dulunya berfungsi sebagai singgasana persembahan dewa. Selain itu, terdapat belasan potongan arca batu yang menggambarkan kehidupan spiritual masyarakat lokal. Temuan bersejarah ini menjadi jendela penghubung menuju dunia seni peradaban pada zaman tersebut.

Ekskavasi lanjutan juga berhasil menemukan alat dapur berupa pipisan dan lesung batu kuno. Kemudian, penemuan keramik dari masa Dinasti Song membuktikan adanya hubungan perdagangan budaya asing. Para arkeolog juga mendapati mata uang emas bertuliskan aksara kuno di sekitar lokasi.

Keunikan Arsitektur Bangunan Kuno

Catatan sejarah menyebutkan bahwa struktur Candi Astano dibangun secara bertahap menjadi tiga bagian. Bangunan pertama yang terletak di bagian tengah merupakan struktur tertua dan paling tinggi. Sementara itu, bangunan kedua dan ketiga mengapit struktur utama di sebelah timur barat.

Bentuk dasar bangunan utama menampilkan denah persegi dua belas yang dirancang sangat teliti. Permukaan tanah tempat candi berdiri letaknya jauh lebih tinggi dari lingkungan area sekitarnya. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi serta keterampilan perancang masa lalu sungguh sangat luar biasa.

Anehnya, bangunan suci ini tidak memiliki hiasan relief maupun lekuk tempat arca bersemayam. Situs purbakala ini juga sama sekali tidak memiliki struktur tangga dari batu bata. Peneliti menduga bahwa masyarakat masa lalu menggunakan tangga kayu untuk menaiki bangunan peribadatan.

Baca juga: Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Bumiayu di Sumatera Selatan

Selain bangunan inti, halaman situs ini juga menyimpan dua buah candi perwara kecil. Candi pendamping ini biasanya dimanfaatkan sebagai tempat khusus untuk menjalankan prosesi upacara keagamaan. Desain bangunan tersebut merupakan contoh penting arsitektur Hindu dan Buddha yang sangat khas.

Peninggalan peradaban masa lalu ini menyimpan pesona keindahan alam yang sangat menawan hati. Hamparan padang bunga mungil berwarna kuning tampak menghiasi jalan setapak menuju gerbang masuk. Tentu saja, perpaduan arsitektur kuno dan keasrian alam menjadikan tempat ini sangat memukau.

Keberadaan situs kuno ini merupakan warisan budaya Indonesia yang harus selalu kita lestarikan. Masyarakat luas dapat mempelajari jejak peradaban bangsa melalui berbagai temuan arkeologi yang berharga. Tidak diragukan lagi, pemeliharaan sejarah Candi Astano memberikan bukti nyata kebesaran leluhur Nusantara. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |