Tari Keling Ponorogo merupakan kesenian unik yang mungkin belum dikenal banyak orang. Kesenian tradisional ini tidak kalah menarik dari pertunjukan Reog yang sudah sangat populer bahkan mendunia. Tarian ini pun memiliki ciri khas tersendiri seperti halnya mewarnai tubuh dengan warna hitam legam.
Mengenal Kesenian Unik Tari Keling Ponorogo
Ponorogo terkenal akan kesenian Reog-nya yang telah sukses menciptakan decak kagum para penonton di berbagai daerah. Selain Reog, kabupaten di Jawa Timur ini masih memiliki berbagai kesenian khas yang tidak kalah menarik. Salah satu keseniannya yaitu Tari Keling yang berasal dari Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung.
Keling merupakan pertunjukan tari unik dan khas yang menampilkan beberapa penari dengan penampilan serba hitam. Pemilihan nama keling karena dalam bahasa Sansekerta artinya tarian hitam atau lantaran gerakan penarinya berkeliling. Selain itu, makna lainnya dari nama Keling yaitu Kalingga yang merupakan nama sebuah kerajaan.
Dalam pementasan kesenian tradisional satu ini akan melibatkan 22 penari dengan peran masing-masing. 12 orang akan menjadi prajurit keling, 6 abdi kinasih, 2 pujangga, dan 2 emban sepuh. 12 orang yang berperan sebagai prajurit Keling ini akan tampil dengan tubuh serba hitam.
Asal-Usul Tarian Keling
Tari Keling Ponorogo sudah ada sejak lama yaitu kabarnya semenjak tahun 1942. Pencetus pertamanya adalah dua tokoh yang bernama Mbah Kasan Ngali dan juga Mbah Silas. Latar belakang terciptanya kesenian ini yakni karena Dusun Mojo mengalami masa sulit pada tahun 1942.
Saat itu Dusun Mojo mengalami kemarau panjang yang menyebabkan gagal panen dan mengakibatkan paceklik. Kala itu masyarakat merasa sangat sengsara karena kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena itulah munculnya ide untuk menciptakan kesenian yang tidak perlu banyak biaya sekaligus bisa melibatkan banyak orang.
Baca Juga: Sejarah dan Makna Mendalam dari Tari Gandrung Banyuwangi
Setelah itu, terciptalah kesenian tarian Keling yang masih terus lestari hingga kini di Dusun Mojo. Saat itu tarian ini bertujuan untuk menghibur masyarakat yang merasa sedih dan kesusahan. Bukan hanya itu, terdapat tujuan lain dari prosesi ini yaitu untuk mengusir masa paceklik yang melanda desa.
Menceritakan Penculikan Putri Kembar Kerajaan Ngerum
Tari Keling Ponorogo bukan menampilkan pertunjukan tarian biasa, namun menceritakan kisah yang cukup menarik. Kesenian ini menceritakan tentang kisah Raja Kerajaan Tambas Keling yang memiliki nama Bagaspati. Raja tersebut terpikat dengan kecantikan putri kembar dari Kerajaan Ngerum yakni Putri Sekar Arum dan Sekar Sari.
Bagaspati kemudian berniat untuk melamar putri kembar tersebut dengan membawa prajuritnya yang bersosok hitam. Akan tetapi, lamaran Bagaspati ternyata berakhir dengan penolakan dari Kerajaan Ngerum dan sang putri. Bukannya menerima penolakan tersebut, Bagaspati dan prajuritnya justru menculik kedua putri kembar Kerajaan Ngerum.
Raja Kerajaan Ngerum yaitu Prabu Indra Jaya tidak tinggal diam atas penculikan kedua putrinya. Sang Raja kemudian membuat sayembara bagi siapa saja untuk membawa pulang kedua putri kembarnya. Hasilnya, Joko Tawang dari Padepokan Waringin Putih berhasil menyelamatkan kedua putri dan mengantarkannya pulang.
Tari Keling Ponorogo kemudian menceritakan perayaan iring-iringan meriah atas kembalinya putri. Prajurit Bagaspati yang tertangkap akhirnya menjadi tawanan dan harus memikul mahkota menyerupai dadak merak sebagai simbol kemenangan. Kemudian mereka juga memainkan alat musik kendang dan kentongan untuk menghibur kedua putri.
Kostum dan Properti
Dalam kesenian ini, penari laki-laki yang berperan sebagai prajurit tampil serba hitam dengan topeng khas. Mereka melumuri tubuh yang terlihat dengan campuran minyak kelapa dan bubuk arang sehingga tampak hitam. Mereka juga membawa senjata tradisional berupa tombak, gada, pedang, dan panah.
Di belakang prajurit, akan ada penari perempuan dengan busana jathil yang menggunakan karung goni. Mereka juga akan menggunakan hiasan berupa ikat kepala unik yang terbuat dari bulu ayam. Setiap peserta akan bernari dengan iringan alat musik sederhana berupa kentongan, kendang, dan bedug.
Baca Juga: Sejarah Wayang Potehi dan Akulturasi Budaya Tionghoa di Indonesia
Tari Keling Ponorogo hanya dibawakan pada waktu tertentu saja seperti bulan Suro hingga Hari Raya Idul Fitri. Pementasannya dengan berjalan menuju sumber mata air setempat yang disebut Kucur, kemudian berkeliling desa. Menariknya, penari yang tampil dalam kesenian hanyalah orang-orang dari Dusun Mojo saja. Tari Keling pun rasanya sudah menjadi identitas dari Dusun Mojo yang ada di Ponorogo. (R10/HR-Online)

11 hours ago
10

















































